Tampilkan postingan dengan label Kuliah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kuliah. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 Januari 2014

Klasifikasi Penyakit Gingiva

10.14 Posted by muhammad hamzah No comments





Berikut adalah klasifikasi penyakit gingiva berdasarkan penyebabnya:

1. Diinduksi Plak
a. Penyakit Gingivayang atau tidak dengan faktor lokal lain
b. Penyakit Gingiva yang dimodifikasi dengan faktor sistemik
- Berhubungan dengan sistem endokrin (hormonal, pubertas, menstruasi, hamil, diabetes, dsb)
- Berhubungan dengan diskrasia darah (Leukemia)
c. Penyakit gingiva yang berhubungan dengan obat-obatan
d. Penyakit Gingiva yang berhubungan dengan malnutrisi

2. Bukan Diinduksi Plak
a. Akibat virus
b. Akibat Bakteri
c. Akibat Jamur
d. Genetik
e. Manifestasi kondisi sistemik
f. Trauma
g. Reaksi tubuh
h. Tidak terdpesifikkan

Sumber: Dental Hygiene and Therapy. p. 113

Minggu, 12 Januari 2014

Anatomi Morfologi Ruang Pulpa

23.45 Posted by muhammad hamzah No comments
Pulpa adalah jaringan terdalam dari gigi. Pulpa terlihat sebagai daerah yang tidak begitu tebal pada radiograph. Secara embriologi, pulpa terbentuk dari sel-sel sentral dental papilla.1
Mahkota dan akar gigi terdiri dari jaringan-jaringan pulpa yang dibagi menjadi ruang/kamar pulpa dan saluran pulpa atau saluran akar. Secara umum, garis tepi dari dari jaringan pulpa sama dengan bentuk garis tepi luar gigi. Bentuk garis tepi  dari ruang pulpa sama dengan bentuk dari mahkota, bentuk garis tepi dari saluran pulpa sama dengan bentuk dari akar gigi.2

Pulpa ikut berperan dalam menopang, memelihara, dan lanjutan pembentukan dentin karena lapisan dalam dari badan sel odontoblas berada sepanjang dinding luar pulpa. Fungsi lain dari pulpa adalah sensoris karena badan sel  berhubungan dengan saraf sensoris pada tubulus dentin yang berada di antara lapisan odontoblas. Ketika dentin atau pulpa terluka, sensasi yang dirasakan oleh otak adalah sensasi nyeri.1
Pulpa juga memiliki fungsi nutrisi, yaitu berperan dalam penyuplaian nutrisi ke dentin, karena dentin tidak memiliki suplai pembuluh darah. Dentin bergantung pada suplai pembuluh darah dari pulpa dan berhubungan dengan cairan jaringan untuk nutrisinya.1
Pulpa memiliki fungsi perlindungan karena terlibat dalam pembentukan dentin sekunder atau tersier, yang meningkatkan cakupan pulpa. Pulpa memiliki sel darah putih pada pembuluh darah dan jaringannya.1
ANATOMI PULPA1
Pulpa yeng terdapat di dalam ruang pulpa memiliki dua divisi utama, yaitu mahkota pulpa dan akar pulpa.  Mahkota pulpa terdapat di dalam mahkota gigi. Parpanjangan yang lebih kecil dari mahkota pulpa ke dalam cusp dari gigi-gigi posterior disebut tanduk pulpa. Tanduk pulpa ini pada gigi permanen khususnya menonjol di bawah buccal cusp pada premolar dan mesiobuccal cusp pada molar. Tanduk pulpa tidak terdapat pada gigi-gigi anterior.

Akar pulpa adalah bagian dari pulpa yang terdapat di daerah akar gigi. Akar pulpa/ radicular pup/ root canal atau pulp canal. Akar pulpa memanjang dari bagian cervix gigi sampai ke apex gigi. Pada bagian apex terdapat lubang yang disebut dengan foramen apikal. Lubang ini dikelilingi oleh cementum dan memungkinkan arteri, vena, limfatik, dan nervus untuk masuk dan keluar dari pulpa dari ligament periodontal. Foramen apikal adalah bagian terakhir dari gigi yang terbentuk setelah mahkota gigi erupsi ke dalam rongga mulut. Pada perkembangan gigi, ukuran foramen besar dan terletk di tengah. Seiring dengan gigi yang semakin dewasa, foramen menjadi lebihkecil diameternya. Foramen biasanya terdapat pada apex akar. Jika ada lebih dari satu foramen yang terlihat pada akar, yang terebesar adalah foramen apical dan sisanya dianggap sebagai foramen aksesoris.





Saluran aksesoris juga berkaitan dengan pulpa dan merupakan lubang tambahan pulpa ke ligament periodontal. Saluran aksesoris/accessory canals juga disebut lateral canals karena biasanya terdapat di bagian lateral akar gigi.

Sumber:
1 Bath-Balogh Mary. Dental Embriology, Histology, and Anatomy. 2nd ed. USA: Saunders Elsevier. 2006. Pg. 200-202
2 Nelson Stanley. Wheelers Dental Anatomy, Physiology, and Occlusion. 9th ed. USA: Saunders Elsevier. 2010. Pg. 209.

Anatomi Pulpa

23.36 Posted by muhammad hamzah No comments

vetnetwork.net
Pulpa adalah jaringan lunak yang terdapat di tengah-tengah gigi, mengandung saraf, pembuluh darah dan limfatik, dan jaringan ikat.

Anatomi pulpa antara lain:
• Tanduk Pulpa  yaitu ujung dari ruang pulpa
• Mahkota pulpa yaitu terletak pada korona gigi
• Ruang pulpa yaitu rongga pulpa yang terdapat pada bagian tengah korona gigi dan selalu tunggal
• Saluran pulpa/saluran akar yaitu rongga pulpa yang terdapat pada bagian akar gigi
• Suplementary canal. Beberapa akar gigi mungkin mempunyai lebih dari satu foramen, dalam hal ini, saluran tersebut mempunyai 2 atu lebih cabang dekat apikal nya yang disebut multiple foraminal/supplementary canal
• foramene apical yaitu ujung dari saluran pulpa yang terdapat pada apeks,akar berupa suatu lubang kecil
• kanal pulpa yaitu rongga pulpa yang terdapat pada bagian tengah korona gigi
• orifice yaitu pintu masuk ke saluran akar gigi. Saluran pulpa di hubungkan dengan ruang pulpa
• radix pulpa yaitu suatu bagian yang terletak pada daerah akar gigi

Tarigan, Rasinta. Perawatan Pulpa Gigi (Endodonti). Jakarta: EGC. 2004. P. 11, 29-31, 100.

Selasa, 07 Januari 2014

The objective of endodontic treatment

09.31 Posted by muhammad hamzah No comments
The consequences of inflammatory lesions in the pulp and periapical tissue (Fig. 1.1) have tormented humankind for thousands of years. Historically, therefore, the main task of endodontic treatment has been to cure toothache due to inflammatory lesions in the pulp (pulpitis) and the periapical tissue (apical periodontitis). For a long period of time a commonly used method to remedy painful pulps was to cauterize the tissue with a red-hot wire or with chemicals such as acid. In 1836, arsenic was introduced to devitalize the pulp, a method that would be used for well over 100 years.
Procedures to remove the pulp without toxic chemicals were introduced in the early part of the 19th century and small, hooked instruments were used. The advent of local anesthesia at the beginning of the 20th century made pulpectomy a painless procedure.
Signs of root canal infection, such as abscesses with fistulae, were also dealt with historically using highly toxic chemicals. These substances were introduced to the root canal, and forced through the foramen into the fistula. Often the treatment was more damaging than the disease condition itself, and the tooth and parts of the surrounding bone were often lost in the process. While relief of pain is still a primary goal of endodontic treatment, patients also may want to exclude the compromised tooth, as both a general and local health hazard. This means that intra- as well as extraradicular infections should be eradicated and that materials implanted in the root canal should be innocuous and not cause adverse tissue reactions or systemic complications. Using modern endodontic treatment procedures, these treatment objectives can be attained in the large majority of cases.

*Textbook of Endodontology. p. 3

Common terms and expressions used for endodontic disease conditions and treatment Procedures

09.30 Posted by muhammad hamzah No comments
Pulpitis-Inflammation of the dental pulp.Symptomatic and asymptomatic pulpitis, as well asirreversible and reversible pulpitis, are commonly used terms to specify lesions with and without painful symptoms. The terms total and partial pulpitis are also in use.

Pulp necrosis-Pulp death. Pulp chamber is devoid of a functional pulp tissue. Necrosis can be more or less complete, i.e. partial or total.

Apical periodontitis-Inflammatory reaction of the tissues surrounding the root apex of a tooth. Symptomatic/asymptomatic apical periodontitisand acute/chronic apical periodontitis, respectively, are applied to indicate lesions with and without overt clinical symptoms such as pain, swelling and tenderness. Dental or apical granuloma is a histological term for an established lesion. Apical, periapical and periradicular are interchangeable terms to state the location of the process at or near the root tip.


Pulp capping-Treatment procedure aimed at preserving a dental pulp that has been exposed to the oral environment.

Partial pulpotomy-Treatment procedure by which the most (often inflamed) superficial portion (1–2 mm) of the coronal pulp is surgically removed with the aim of preserving the remaining tissue.

Pulpotomy-Treatment procedure by which the entire coronal pulp tissue is surgically removed with the aim of preserving the remaining tissue. The term pulpotomy is also used to describe a pain-relieving procedure in an emergency treatment of symptomatic pulpitis.

Pulpectomy-Treatment procedure by which pulp tissue (often inflamed) is surgically removed and replaced with a root filling.

Root canal treatment (RCT)-Treatment of teeth with necrotic pulps where root canals are often infected.

Non-surgical retreatment-Treatment of root filled teeth with clinical and/or radiographic signs of root canal infection, where root fillings are removed, canals disinfected and refilled. May also be carried out to improve the technical quality of previous root fillings.

Surgical retreatment-Treatment procedure by which the root apex of a tooth is surgically accessed to manage a root canal infection that has not been successfully treated by RCT. Retrograde endodontics or surgical endodontics are other terms for this procedure.

Sumber: Textbook of Endodontology

Anatomi Bibir

09.27 Posted by muhammad hamzah 1 comment
Bibir adalah struktur berdaging sangat vaskular yang menjaga pintu masuk ke rongga mulut.
Anatomi bibir terdiri dari:
Zona Vermilion, yaitu bagian merah pada bibir yang disebabkan karena bagian ini kaya akan vaskularisasi yang dapat terlihat melalui epitelium tipis.
Vermilion Border, yaitu garis tepi zona vermilion yang merupakan batas antara zona vermilion dengan kulit.

Philtrum, turunan/lekukan kecil vertikal yang dangkal di garis tengah hidung ke perbatasan vermilion atas.
Tuberkulum Labial, tonjolan berdaging tepat di bagian inferior dari philtrum.
Comissura Labial, lipatan tipis jaringan yang mudah terlihat ketika bibir terbuka yang menghubungkan bibir atas dan bawah pada bag. lateral.
Comissura Lip Pit, Lekukan kecil di tengah-tengah Comissura labial.
Celah Mulut, Zona antara bibir superior dan inferior yang dapat dibuka atau ketika bibir kontak satu sama lain atau ditutup.
Sumber: Hiatt and Gartner. Textbook of Head and Neck Anatomy. USA: LW&W. 4th ed. 2010. P.32

Anatomi Gingiva

09.21 Posted by muhammad hamzah 2 comments

Gingiva terdapat di sekeliling gigi maksila dan madibula di dalam alveoli dan menutup prosessus alveolaris, mengandung mukosa berwarna pink.
Bagian-bagian anatomi gingiva:
Attached Gingiva, adalah bagian gingiva yang melekat rapat ke tulang di sekeliling akar gigi, attached gingiva memiliki pigmentasi melanin.
Mucogingival junction, adalah pemisah antara attached gingiva yang rapat dan berwarna merah muda, dengan mukosa alveolar yang dapat digerakkan dan berwarna merah.
Marginal gingiva, adalah tepi gingiva pada setiap gigi.
Sulcus Gingiva, adalah permukaan dalam gingiva yang menghadap ruang antar gigi.

Interdental Gingiva, adalah bagian gingiva di antara perbatasan gigi-gigi yang merupakan perluasan dari attached gingiva.
Sumber: Mary Bath-Balogh. Dental Embriology,Histology, and Anatomy.

Anatomi Lidah

09.19 Posted by muhammad hamzah No comments

Lidah adalah bagian yang menonjol pada rongga mulut bagian dalam. Anatomi lidah antara lain:
Dasar lidah, yaitu sepertiga posterior, bagian faringeal dari lidah, dasar lidah mendekati dasar mulut.
Badan lidah, yaitu dua pertiga anterior dari lidah, terletak tepat di rongga mulut.
Apeks lidah, yaitu bagian ujung dari lidah.
Papilla lingual, permukaan tertentu dari lidah yang mempunyai struktur agak naik dari mukosa khusus. Terdiri dari:
Papilla filiformis, papila yang tipis, seprti benang, dan keputih-putihan, yang membuat permukaan dorsal memiliki tekstur beledu/beludru.
Papilla Fungiformis, papilla yang berwarna kemerahan, lebih kecil dan berbentuk seperti bintil-bintil jamur pada permukaan dorsal.
Sulcus terminalis, adalah struktur yang terletak lebih posterior dari permukaan dorsal dan lebih sulit untuk dilihat secra klinis groove-nya yang berbentuk seperti huruf V terbalik.
Foramen Caecum, terletak di ujung belakang sulcus terminalis yang menghadap ke kerongkongan. Ukurannya kecil dan seperti pit.
Papilla Circumvallte, yaitu papilla yang memiliki bentuk seperti jamur yang besar, berada di sepanjang sisi anterior sulcus terminalis, jumlahnya sekitar  10-14. Di belakang sulcus terminalais dan foramen caecum pada permukaan dorsal terdapat struktur jaringan yang irregular yaitu lingual tonsil.
Papilla Foliata, yaitu papilla yang terletak di permukaan lateral lidah.
Taste Bud (Kuncup perasa), yaitu struktur yang berhubungan dengan papila lingual yang merupakan organ khusus untuk merasa/mengecap rasa.
Sulcus media, yaitu lekukan garis tengah pada bagian permukaan dorsal lidah.



Sumber: Mary Bath-Balogh. Dental Embriology, Histology, and Anatomy. 

Senin, 06 Januari 2014

ANATOMI, MORFOLOGI RUANG PULPA

16.04 Posted by muhammad hamzah No comments
Pulpa adalah jaringan terdalam dari gigi. Pulpa terlihat sebagai daerah yang tidak begitu tebal pada radiograph. Secara embriologi, pulpa terbentuk dari sel-sel sentral dental papilla.1
Mahkota dan akar gigi terdiri dari jaringan-jaringan pulpa yang dibagi menjadi ruang/kamar pulpa dan saluran pulpa atau saluran akar. Secara umum, garis tepi dari dari jaringan pulpa sama dengan bentuk garis tepi luar gigi. Bentuk garis tepi  dari ruang pulpa sama dengan bentuk dari mahkota, bentuk garis tepi dari saluran pulpa sama dengan bentuk dari akar gigi.2

Pulpa ikut berperan dalam menopang, memelihara, dan lanjutan pembentukan dentin karena lapisan dalam dari badan sel odontoblas berada sepanjang dinding luar pulpa. Fungsi lain dari pulpa adalah sensoris karena badan sel  berhubungan dengan saraf sensoris pada tubulus dentin yang berada di antara lapisan odontoblas. Ketika dentin atau pulpa terluka, sensasi yang dirasakan oleh otak adalah sensasi nyeri.1
Pulpa juga memiliki fungsi nutrisi, yaitu berperan dalam penyuplaian nutrisi ke dentin, karena dentin tidak memiliki suplai pembuluh darah. Dentin bergantung pada suplai pembuluh darah dari pulpa dan berhubungan dengan cairan jaringan untuk nutrisinya.1
Pulpa memiliki fungsi perlindungan karena terlibat dalam pembentukan dentin sekunder atau tersier, yang meningkatkan cakupan pulpa. Pulpa memiliki sel darah putih pada pembuluh darah dan jaringannya.1
ANATOMI PULPA1
Pulpa yeng terdapat di dalam ruang pulpa memiliki dua divisi utama, yaitu mahkota pulpa dan akar pulpa.  Mahkota pulpa terdapat di dalam mahkota gigi. Parpanjangan yang lebih kecil dari mahkota pulpa ke dalam cusp dari gigi-gigi posterior disebut tanduk pulpa. Tanduk pulpa ini pada gigi permanen khususnya menonjol di bawah buccal cusp pada premolar dan mesiobuccal cusp pada molar. Tanduk pulpa tidak terdapat pada gigi-gigi anterior.

Akar pulpa adalah bagian dari pulpa yang terdapat di daerah akar gigi. Akar pulpa/ radicular pup/ root canal atau pulp canal. Akar pulpa memanjang dari bagian cervix gigi sampai ke apex gigi. Pada bagian apex terdapat lubang yang disebut dengan foramen apikal. Lubang ini dikelilingi oleh cementum dan memungkinkan arteri, vena, limfatik, dan nervus untuk masuk dan keluar dari pulpa dari ligament periodontal. Foramen apikal adalah bagian terakhir dari gigi yang terbentuk setelah mahkota gigi erupsi ke dalam rongga mulut. Pada perkembangan gigi, ukuran foramen besar dan terletk di tengah. Seiring dengan gigi yang semakin dewasa, foramen menjadi lebihkecil diameternya. Foramen biasanya terdapat pada apex akar. Jika ada lebih dari satu foramen yang terlihat pada akar, yang terebesar adalah foramen apical dan sisanya dianggap sebagai foramen aksesoris.



Saluran aksesoris juga berkaitan dengan pulpa dan merupakan lubang tambahan pulpa ke ligament periodontal. Saluran aksesoris/accessory canals juga disebut lateral canals karena biasanya terdapat di bagian lateral akar gigi.

Sumber:
1 Bath-Balogh Mary. Dental Embriology, Histology, and Anatomy. 2nd ed. USA: Saunders Elsevier. 2006. Pg. 200-202
2 Nelson Stanley. Wheelers Dental Anatomy, Physiology, and Occlusion. 9th ed. USA: Saunders Elsevier. 2010. Pg. 209.

Minggu, 05 Januari 2014

Perawatan Invasif Kelainan Jaringan Keras Gigi Non-Karies

23.53 Posted by muhammad hamzah No comments
atrisi pada gigi
Tidak seperti karies, keausan pada gigi merupakan proses irreversible. Manajemen harus mempunyai tujuan untuk mempertahankan gigi fungsional yang nyaman dan penampilan yang baik, untuk itu pencegahan dan pemantauan harus ditekankan untuk tahap awal, menghindari restorasi sampai diperlukan. Restorasi dibutuhkan hanya ketika pasien khawatir terhadap penampilan, atau gigi menjadi sensitif. Atau dokter gigi menjadi khawatir terhadap perubahan fisik seperti perubahan dimensi vertikal oklusal, atau terbukanya pulpa. Jika restorasi ditempatkan ketika keausan masih berlangsung, terutama erosi, restorasi tersebut dapat mempercepat daripada memperlambat laju keausan gigi disekitarnya. Pada kasus lanjut, crown dibutuhkan.

Perawatan Atrisi
Pada atrisi, perawatan tidak perlu dilakukan apabila pembentukan dentin sekunder seimbang dengan terjadinya atrisi. Ketika mahkota sudah aus dan mencapai margin gingiva, gigi tiruan dapat dibuat untuk meningkatkan fungsi.

Perawatan Abrasi
Pada abrasi membutuhkan eliminasi kebiasaan dan restorasi apabila fungsi dan faktor estetik menjadi masalah. Abrasi berhubungan dengan maloklusi yang dapat membutuhkan rehabilitasi oklusal dan evaluasi periodontal secara komplit. Alat night-guard dapat mengurangi abrasi pada pasien yang mempunyai kebiasaan bruxism.

Perawatan Erosi
Area  erosi dapat menjadi sensitif dan harus direstorasi dengan conventional operative procedure.
Dokter gigi mengganti gigi yang erosi dengan material restorasi. Jika erosinya ekstensif, harus dibuat crown.

Perawatan Abfraksi
Restorasi abfraksi membutuhkan kombinasi restorasi kedokteran gigi adhesive dan terapi penyesuaian oklusi. Perawatan restorasi mengisi struktur akar yang terbuka dengan komposit yang dibonding, sementara penyesuaian oklusi mengurangi gaya-gaya lateral yang menyebabkan momen lateral terjadi secara berulang. Tanpa adanya penyesuaian oklusi, akan mengalami kerusakan seperti abfraksi.

Referensi
1 Kidd, et al. Pickard’s Manual of Operative Dentistry. USA: Oxford University Press. 8th ed. 2003. P 27.
2 Eversole, Lewis R. Clinical Outline of Oral Phatotogy. USA: PMPH-USA. 4th ed. 2011. P 574-576
3 Kunnamo. Based Medicine Guidelines. Finland: Duodecaim Medical Publication. 2005. P 256
4 Grippo. Abfractions; A New Clacification of Hard Tissue Lesions of The Teeth. J Esthet Dent 1991. 3(1): 14-19

Indikasi dan Kontraindikasi Gigi Tiruan Penuh

16.35 Posted by muhammad hamzah No comments
Gigi Tiruan Penuh adalah prostesis gigi lepasan yang menggantikan seluruh gigi dan struktur terkait (jaringan pendukung) dari maxilla atau mandibula; disebut  complete removable dental prosthesis.

Indikasi dan Kontraindikasi Gigi Tiruan Penuh
A. Indikasi
1. Pasien Edentolous
2. Gigi yang tersisa tidak dapat dipertahankan
3. Gigi yang tersisa tidak dapat mendukung gigi tiruan sebagian, dan tidak ada alternatif yamg tersedia.
4. Pasien Menolak rekomendasi alternatif perawatan.

B. Kontraindikasi
1. Ada Alternatif perawatan lain
2. Kelainan mental/fisikal yang menyebabkan gangguan kemampuan pasien untuk kooperatifselama pembuatan gigi tiruan dan selama penggunaan gigi tiruan.
3. Pasien hipersensitif terhadap material gigi tiruan.
4. Tidak tertarik sama sekali menggunakan gigi tiruan.
Sumber: Elsevier Science (USA). 2003. All rights reserved.

Keuntungan dan Kerugian Gigi Tiruan Penuh
A. Keuntungan
1. Fungsi. Di masa lalu, gigi tiruan dibuat untuk mengunyah makanan, tapi kini GTP (Gigi Tiruan Penuh) dirancang untuk menjadi nyaman, estetis, dan berfungsi penuh juga untuk fungsi bicara.
2. Estetis
3. Kesehatan. Gigi tiruan mendukung struktur otot dan wajah, juga mengurangi resorpsi tulang alveolar.
4. Biayanya hemat.

B. Kekurangan
1. Bagi beberapa pasien, membersihkan GTP secara teratur merupakan suatu kekurangan. Pasien harus sadar bahwa GTP memang harus rutin dibersihkan.
2. GTP yang tidak pas dapat menimbulkan ketidaknyamanan , rasa sakit, dan kesulitan pada saat mengunyah.
Sumber: www. Columbiasmiles.com. Dr. Nick Purnaras. Diakses 9 Desember 2013.

Teknik Komunikasi Dengan Pasien Geriatri

16.25 Posted by muhammad hamzah No comments
Link
Komunikasi dengan pasien, terutama pasien geriatri, adalah unsur yang paling penting dalam praktek kedokteran gigi yang sukses. Komunikasi lebih dari sekedar bicara dan mekanismenya lebih kepada mendengar dan memahami. Pasien mungkin sudah sangat jenuh dengan prosedur pengobatan, jadi dokter gigi harus memahami dengan jelas apa yang mereka beritahu. Untuk mendengar pasien yang terganggu, papan dengan kertas dan pensil sangat berguna pada proses komunikasi dengan pasien. Untuk seorang tuna rungu, sangat berguna untuk memberikan instruksi dalam bentuk tulisan.

Cara berkomunikasi dengan Lansia:
1. Memulai Kontak dengan saling memperkenalkan nama dan berjabat tangan.
2. Menyentuh tangannya untuk mengucapkan pesan-pesan verbal dan merupakan metode primer yang nonverbal.
3. Jelaskan tujuan dari wawancara dan hubungan dengan intervensi keperawatan yang akan diberikan.
4. Mulai pertanyaan dengan topik-topik yang tidak mengganggu.
5. Gunakan pertanyaan terbuka dan belajar mendengar yang efektif.
6. Secara periodik mengklasifikasi pesan.
7. Mempertahankan kontak mata dan mendengarkan dengan baik, terfokus pada informasi.
8. Jangan berpesan yang menonjolkan rasa simpati.
9. Bertanya tentang keadaan mental merupakan pertanyaan yang mengancam dan dapat mengakhiri interview.
10. Meminta izin bertanya

Secara teknik juga perlu memperhatikan lingkungan komunikasi.
1. Posisi duduk berhadapan
2. Penerangan cukup
3. Kurangi keramaian dan kebisingan
4. Mengerti dan mendengarkan.

Sumber:
1 www.dentalcare.com Geriatric Dentistry. Reviewing for the Present, Preparing for the Future. Natalie Kaweckyj. Diakses 23 Mei 2013
2 Nelssen C. Geriatric Dentistry: Aging and Oral Health. Athena: Mosby. 1991

Gambaran Klinis Trauma From Occlusion

06.49 Posted by muhammad hamzah No comments
Berikut Gambaran Klinis Trauma Gigi yang disebabkan karena oklusi

1. Adanya Mobilitas Gigi
2. Gigi hipersensitifitas
3. Migrasi gigi
4. Adanya impaksi makanan
5. Kerusakan cusp
6. Adanya poket infrabony

Caranza’s Clinical Periodontology. P. 256
Essentials of Clinical Periodontology. P.429
Foundation of Periodontal for the Dental Hygienist, 2e. P. 108