Minggu, 12 Januari 2014

Lhok Seudu, Destinasi Wisata Bukan Kelas Bawah!

07.40 Posted by Muhammad Hamzah 2 comments
Panorama dari dermaga Lhok Seudu
Sudah pernah ke Lhok Seudu? Atau tahu di mana Lhok Seudu itu?
Jangan-jangan pada gak tau kalau deretan kios penjual ikan asin di pinggir jalan Leupung itu nama daerahnya adalah Lhok Seudu. Hehe
Mengapa saya membuat judul seperti di atas? Begini ceritanya.
Lhok Seudu adalah sebuah Desa Pesisir di Kecamatan Leupung, Aceh Besar. Sebagian besar penduduk di sini bermatapencaharian sebagai nelayan.  Perjalanan menuju Lhok Seudu dari Banda Aceh memakan waktu sekitar 30-45 menit.
Gerbang masuk kawasan Lhok Seudu
Sesampainya di Lhok Seudu kita akan langsung disuguhkan dengan pemandangan deretan kios-kios penjual ikan asin dan gurita kering di sepanjang jalan dekat dermaga nelayan lhok seudu. Bukan hanya itu, hamparan laut terlihat jelas dari pinggir jalannya.


Di  sini saya menyempatkan diri untuk mengunjungi salah satu kios ikan asin untuk membeli beberapa ikan asin. Harga ikan asin di sini cukup lumayan, saya gak tau ini lumayan murah atau lumayan mahal hehe.. untuk membeli ikan asin tenggiri ukuran besar saya harus merogoh kocek sebesar 75.000 rupiah. Tapi masih bisa ditawar kok... akhirnya saya dapat Rp 60.000. Kemudian untuk satu bambu teri nasi ukuran besar , dapat dibeli dengan harga Rp 80.000. Kalau gurita kering harganya Rp 80.000-100.000 tergantung ukurannya. Bukan hanya sekedar membeli, saya juga sempat berbincang-bincang dengan ibu penjualnya. Ibunya ramah dan welcome banget.
Bareng ibu penjual gurita kering
Selesai membeli oleh-oleh untuk dibawa pulang ke kampung halaman, saya melanjutkan perjalanan menuju dermaga kapal nelayan. Di sini yang pertama sekali saya rasakan adalah gimana ya bilangnya, susah diungkapkan dengan kata-kata. Pokoknya adeeeem. Hehe bagaimana tidak, air laut di dermaga ini sangat tenang, semilir angin berpadu dengan hijaunya pegunungan di sekeliling teluk ini menciptakan harmonisasi tersendiri di dalam diri. Apalagi ikan-ikan yang menari-nari seperti tak sadar akan kehadiran kami juga melengkapi teduhnya kunjungan ke dermaga ini. :-D


Puas menikmati keteduhan di dermaga, kami menuju mushala untuk shalat dzuhur, kemudian lanjut ke tempat-tempat yang lainnya. Ada sisa atap masjid yang masih ada di dekat dengan dermaga dan jalan di tepi laut yang hancur diterpa ombak tsunami. Kondisi sisa atap masjid ini memang tidak dirawat, di dalamnya juga ditumbuhi pohon kelapa. Sedangkan jalan hancur yang di tepi laut ini sepertinya memang dibiarkan saja untuk mengingatkan betapa dahsyatnya ombak tsunami 2004 silam.
Dermaga untuk melihat ikan

Jalan yang hancur dihantam ombak tsunami

Bagian atap masjid sisa tsunami

Tak ingat berapa lama kami berdiam di tepi dermaga lhok seudu. Belum puas bersantai di Lhok Seudu, kami melanjutkan perjalanan keeeeeeeeee yap! Mie Leupung! Gak lengkap rasanya ke Leupung kalo gak makan Mie Aceh khas Leupung yang fenomenal itu. Perjalanan kami hari itu pun berakhir di sini.
Banyak sekali manfaat yang saya dapat dari perjalanan ini. Bukan hanya sekedar berwisata, akan tetapi saya mendapatkan sesuatu yang lebih. Mau tau? Datang aja sendiri. :-D
Mie Aceh khas Leupung
 (*ini mie biasa, ga pake udang, daging, kepiting, dsb)
Harganya Rp 8.000 :-D
Harapan saya agar Lhok Seudu ini bisa dikelola oleh pemerintah setempat sebagai salah satu objek wisata unggulan Aceh Besar karena kawasan ini memiliki potensi yang sangat besar.
Kembali ke judul, walaupun kawasan ini belum dikelola oleh pemerintah sebagai objek wisata unggulan, belum banyak masyarakat yang khusus datang ke sini untuk berwisata, namun kawasan ini memiliki pesona yang sangat luar bisa menurut saya. Maka Lhok Seudu adalah Destinasi Wisata Bukan Kelas Bawah! :-)
Salam!
(Muhammad Hamzah)


2 komentar:

  1. mantab bro. baru saja dari sana ..
    setuju,bisa jadi obyek wisata unggulan kalau dikelola dengan benar dan ada dukungan dari pemerintah daerah

    BalasHapus
  2. Wahhh my village ini.... :D Ternyata bapak Presma udah brkunjung juga kemari.. Bagus Judul tulisannya bg Muhammad Hamzah :)

    Semoga kedepan akan ada manjemen dan tata kelola yang baik pemerintah daerah setempat. *harapan aneuk nanggroe

    BalasHapus